Halo kawan, apakah kalian tau apa arti kata denotatif dan konotatif ? Jika ingin mengetahuinya mari simak artikel dibawah ini ya!

MAKNA DENOTATIF dan KONOTATIF

Makna denotatif yaitu makna sesungguhnya atau makna yang memang cocok dengan pengertian yang dikandung oleh kata hal yang demikian. Kata makan artinya  memasukkan sesuatu ke dalam mulut , dikunyah, dan ditelan. Arti kata makan hal yang demikian yaitu makna denotatif. Makna denotatif disebut juga makna umum.

Makna konotatif  yaitu bukan makna sesungguhnya. Dengan kata lain, makna kias atau makna tambahan. Teladan kata putih dapat bermakna suci atau ikhlas namun juga bisa bermakna menyerah atau polos.

Pemakaian kata bermakna konotatif juga terkait dengan poin rasa, bagus poin rasa rendah ataupun tinggi.  Teladan kata gerombolan dan kumpulan secara denotatif bermakna sama, adalah kategori manusia.

Baca Juga :  Makalah Sejarah Indonesia tentang Kerajaan Majapahit

Dua pasang kata hal yang demikian meski bermakna denotasi sama, melainkan secara konotasi memiliki poin rasa yang berbeda. Kata gerombolan memiliki poin rasa yang rendah, meskipun kata kumpulan bernilai rasa tinggi.

Jadi, kata gerombolan  mempunyai poin rasa yang lebih rendah pun berkonotasi negatif dari kata kumpulan. Beberapa ini ternyata  pada  frasa gerombolan pengacau  bukan kumpulan pengacau.  Masih banyak kata yang secara denotatif mempunyai kesamaan arti, melainkan konotasinya berbeda poin rasa.

Melainkan kata pun bisa dikonotasikan secara negatif, contohnya kata kebijaksanaan. Kata ini berdasarkan arti yang hakekatnya yakni kelakuan atau perbuatan bijaksana dalam menghadapi suatu persoalan.

banyak penerapan kata kebijaksanaan yang menyeleweng dari arti hakekatnya. Kata kebijaksanaan dikonotasikan dengan permintaan supaya urusan bisa lancar. Beberapa yang sama terjadi juga pada penggunaan kata pengertian.

Baca Juga :  Apa Sebab Runtuhnya Kerajaan Buleleng?

Dalam kalimat “Pembagian kompor gas ini memang tak dipungut upah, melainkan kami mohon pengertiannya,” kata pengertian mempunyai makna lain adalah, meminta imbalan walau sedikit dan sebagainya.

Konotasi juga bisa memberikan poin rasa halus dan kasar. Untuk sekelompok masyarakat pemakai bahasa tertentu, sebuah atau sebagian kata bisa bernilai rasa kasar, melainkan pada kategori masyarakat lainnya dinikmati umum saja atau wajar saja, contohnya kata laki- bini untuk kalangan masyarakat Melayu dianggap umum, melainkan untuk kalangan masyarakat intelek dianggap kasar.

Contoh Lain 

Kata-kata berkonotasi halus disebut juga dengan istilah ameliorasi dan yang berkonotasi kasar disebut peyorasi. Kata-kata bernilai rasa halus lazim diterapkan pada penerapan bahasa dalam kondisi sah, sebaliknya kata-kata bernilai rasa kasar lazim diterapkan dalam percakapan sehari-hari atau dalam suasana nonformal.
Pada prosa fiksi secara khusus cerpen atau novel populer, kerap kali terdapat wujud-wujud percakapan sehari-hari atau bahasa gaul. Dalam sastra populer, pengarang lebih bebas menerapkan kata-kata yang dianggapnya pantas dengan karakter tokoh.
Dalam bercerita malahan, penulis populer lebih cenderung menyampaikan bahasa yang segar dan komunikatif pantas denganpeminat cerpen atau novel yang kebanyakan dari kalangan remaja.
Hal itu juga untuk membangun latar atau suasana yang memang pantas dengan tema-tema populer yang dipilihnya seperti tema perihal cinta, pergaulan remaja, atau persoalan di sekolah.
Pada novel atau cerpen sastra, pemakaian bahasa lebih selektif. Dalam prosa sastra atau sastra klasik, bahasa termasuk menjadi elemen penentu kwalitas pengarang dan karyanya yang masih menekankan elemen keindahan.
Bahasa yang dipergunakan akan menjadi ciri khas tersendiri dari pengarangnya dalam mengolah cerita. Pemakaian bahasa nonformal lazimnya terdapat pada tema-tema tertentu yang memang mengusung latar tradisi yang pantas atau untuk percakapan tokoh yang memang mempunyai karakter bicara seperti itu.